Know About Marketing Models, Today!

       Perkembangan teknologi dari tahun ke tahun mengalami perkembangan pesat yang berakibat ikut banyaknya perubahan yang terjadi di dunia saat ini. Mulai dari model pemasaran, hingga pemikiran seseorang untuk menghadapi setiap tantangan baru yang ditimbulkan dari perkembangan jaman. Uniknya sekarang makin banyak bermunculan model dalam pemasaran dimana pemasar harus ketahui. Pengetahuan tersebut dibutuhkan pemasar karena model pemasaran dapat menentukan apa yang baik dan penting untuk brand dan bagaimana cara untuk meningkatkan nilai dari brand mereka. Dalam buku Kottler “Kellog on Advertising & Media” dijelaskan secara singkat mengenai tiga model konsep marketing.

Marketing 1.0
Model ini terdengar sangat usang dan sangat jarang digunakan saat ini karena dinilai sudah tidak cocok jika diterapkan di model pemasaran saat ini. Lalu untuk apa kita mengetahuinya? Tentu saja untuk mendapatkan insight berupa pengetahuan yang nantinya dapat di kolaborasikan dengan banyak ide yang memungkinkan untuk melahirkan sebuah model yang baru di kemudian hari.
Marketing 1.0 merupakan sebuah model pemasaran yang berfokus kepada produk yang ingin di sampaikan kepada khlayak (product-centric) . Intinya pemasaran berusaha untuk memasarkan produknya melalui media lama (old media) kepada khalayak, tanpa mementingkan apakah khalayak itu suka atau tidak, tertarik atau bahkan tidak tertarik atau dengan kata lain tidak ada interactivity antara produk dan khalayak (one-way communication). Pada jamannya marketing 1.0 sangat berhasil karena pada saat itu memang media yang digunakan pun merupakan media yang paling banyak di konsumsi khalayak seperti, teve, radio, koran dan bahkan billboard. Pemasar hanya berfokus kepada kualitas produk, packaging, promo tapi mengabaikan kebutuhan sebenarnya dari khalayak.

marketing 1.0Marketing 1.0
Lalu bagaimana mind-set yang digunakan pemasar dalam mengalokasikan dananya untuk belanja iklan guna memasarkan produknya? Jelas, mereka percaya penuh kepada agensi, makanya pada era ini muncul istilah agensi full-service untuk memenuhi kebutuhan pemasar terkait pemasaran. Lalu bagaimana marketing 2.0?
Marketing 2.0 [Internet ERA]
Pada model ini intinya konsumen merupakan raja yang harus menjadi prioritas pemasar, seperti yang dibicarakan dalam buku kottler tersebut “Consumer is King” . Mengapa muncul marketing 2.0? karena semakin pesatnya perkembangan internet yang menyebabkan khalayak old media seperti teve, radio dan koran berpindah ke ranah online. Sehingga pemasar mulai menyadari bahwa perubahan tersebut menyebabkan kebutuhan yang beragam pula. Oleh karena itu, mereka “tidak boleh egois” karena khalayak juga memiliki kebutuhan yang lain yang mungkin tidak tertangkap pemasar pada model 1.0. Karena konsumen merupakan hal yang terpenting, maka dibutuhkan cara untuk menyambungkan khalayak dengan produk, mengingat pada kemunculan internet ini khalayak bisa membuat kontennya sendiri di media yang miliki atau lebih dikenal sebagai user-generated content. Munculah yang namanya agensi yang berfokus kepada interactivity dengan media yang digunakan khalayak saat ini, seperti facebook, twitter, youtube. Agensi ini sangat menguntungkan karena ia hanya bertugas untuk menjaga interaksi dengan konsumennya dengan membentuk seperti viral marketing, interactive marketing, guerilla marketing, shopper marketing, permission marketing.

Marketing 2Marketing 2.0
Lalu bagaimana mind-set yang digunakan pemasar dalam melakukan pengalokasian dana untuk pemasaran pada model 2.0 ini? Kemunculan agensi interactivity, maka porsi untuk pengalokasiannya juga berubah yang mana pemasar akan membagi kepada agensi iklan sebanyak 70%, dan 30%nya untuk media interactivity, dimana 10%nya dibagi lagi untuk membayar aktor, produksi skrip atau yang berkaitan mengenai operasional dari media interactivity. Model pembagian ini dikenal dengan aturan 70/20/10.
Marketing 3.0
Model ini bisa dicirikan dengan adanya kontrol yang kuat dari khalayak untuk memilih media dan brand apa yang sesuai dengan interest atau minat khalayak tersebut. Hal ini menyebabkan pemasar harus mengetahui, tidak hanya demografi tapi behavior dan psikografi dari tiap-tiap khalayak. Dibutuhkan alat seperti artificial intelegent untuk memenuhi semua kebutuhan khalayak. Bayangkan jika kita ingin berlibur, sistem akan mengerti kemana kita akan berlibur, hotel apa yang kita inginkan, semua itu berdasarkan big data yang ada di internet yang dikumpulkan melalui cookies milik kita.

marketing 3Marketing 3.0

 

Marketing 4.0
Baru baru ini, terdengar lagi mengenai konsep marketing yang baru yakni 4.0. Konsep ini hadir karena pada sebelumnya internet begitu berkuasa sehingga pemasar sangat berfokus kepada internet dan mengabaikan offline media. Hal itu menyebabkan semakin padatnya pemasar yang memasarkan iklannya di online yang menyebabkan khalayak sulit untuk menerima pesan yang begitu banyak, untuk membedakannya dengan pemasar lain dibutuhkan media offline. Inti dari konsep ini adalah bagaimana pemasar memadupadakan online media dan offline media untuk dapat memenangkan advokasi khalayak, karena ketika pemasar ingin mendapatkan interactivity yang lebih, pemasar harus mencari cara agar khalayak mau menyampaikannya ke online atau sebaliknya ke offline(word of mouth).

Calder, B. J. and Malthouse, E. C. (2012) Media Engagement and Advertising Effectiveness, in Kellogg on Advertising & Media: The Kellogg School Of Management (ed B. J. Calder), John Wiley & Sons, Inc., Hoboken, NJ, USA.